Tolak Tanam Sawit, Kelompok Tani di Kutim Sukses Cuan dari Kopi Liberika
- Jul 03, 2026
- INFO SIGAP
acap kali menghadapkan kita pada dua kutub: keuntungan instan atau keberlanjutan masa depan. Di Desa Suka Rahmat, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), sekelompok petani memilih jalan yang sunyi namun membanggakan. Mereka lantang berkata “tidak” pada kelapa sawit, dan memilih memeluk erat pohon-pohon Kopi Liberika.
Lewat Kelompok Tani Hutan (KTH) Agrowisata Goa Taman Buah Mandiri, pilihan ini bukan sekadar romantisasi lingkungan. Ini adalah strategi bertahan hidup yang cerdas. Di bawah rindangnya kanopi hutan, mereka membuktikan bahwa isi dompet bisa tetap tebal tanpa harus menggunduli paru-paru bum
Kami memilih menanam kopi dibandingkan sawit agar pelestarian kebun beriringan dengan upaya menjaga ketahanan lingkungan,” ujar Ketua KTH Goa Taman Buah Mandiri, Ruslan, saat berbincang hangat, Jumat, 3 Juli 2026.
Pilihan Ruslan dan kawan-kawan didasari oleh metode agroforestri atau wanatani. Sistem ini memadukan tanaman hutan dengan komoditas perkebunan. Dengan cara ini, struktur tanah tetap terjaga, pasokan air aman, dan ekosistem hutan lindung tidak rusak seperti jika dikonversi menjadi perkebunan monokultur skala besar.
Langkah berani ini mendapat payung hukum yang kuat dari pemerintah. Difasilitasi UPTD KPHP Santan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur, kelompok tani ini resmi mengantongi izin perhutanan sosial sejak tahun 2023. Tidak tanggung-tanggung, hak pengelolaan lahan seluas 25 hektare ini berlaku hingga 35 tahun ke depan.
Menariknya, hutan ini tidak hanya beraroma kopi. Dari sekira 14.000 pohon kopi yang tumbuh subur, muncul berkah lain saat musim berbunga tiba. Bunga-bunga kopi tersebut menjadi ladang nektar alami bagi lebah kelulut.
Lebah tanpa sengat ini menghasilkan madu berkhasiat tinggi. Oleh para petani, madu kelulut ini rutin dipanen dan dikonsumsi sebagai suplemen penjaga imun tubuh saat mereka harus merawat hutan setiap hari.
Kini, perjuangan panjang yang sebenarnya sudah mereka rintis sejak 2007 itu mulai membuahkan hasil manis secara ekonomi. Kopi bubuk kemasan bermerek lokal produksi Suka Rahmat sudah melenggang ke pasar komersial.
“Kopi bubuk kami saat ini telah dipasarkan secara komersial kepada masyarakat dengan harga sekira Rp30 ribu per kemasan,” kata Ruslan tersenyum.
Bagi pencinta kopi, jenis Liberika memang punya tempat tersendiri karena aromanya yang kuat dengan sentuhan rasa buah (fruity) yang khas, serta daya tahannya yang kuat di lahan gambut atau marginal.
Keberhasilan KTH Goa Taman Buah Mandiri kini menjadi magnet baru di Kutai Timur. Desa Suka Rahmat menjelma jadi laboratorium hidup tempat belajar bagi petani dari daerah lain.
Mereka datang bukan cuma untuk mencicipi kopi, tapi meniru bagaimana ekonomi dan konservasi bisa berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan