Wakil Gubernur Kaltim Apresiasi Penurunan Stunting di Bontang

  • Nov 20, 2025
  • INFO SIGAP

enurunan angka stunting di Kota Bontang, mendapat apresiasi dari Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Seno Aji. Kota Taman memang tak sendiri. Dua daerah lain seperti Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), juga mendapat respon serupa.

Baginya, tiga daerah itu telah berhasil mencatatkan penurunan angka stunting signifikan. Rinciannya, Kota Bontang 20,7 persen, Kota Samarinda, 20,3 persen, dan Kabupaten Kukar 14,2 persen. Persentase itu bahkan telah menunjukkan capaian di bawah rata-rata provinsi.

Ia menegaskan, pentingnya penguatan intervensi spesifik dan sensitif untuk mengejar target penurunan prevalensi stunting di tingkat provinsi. “Kami berterima kasih kepada Kukar yang sudah jauh di bawah rata-rata provinsi, kemudian Samarinda an Bontang. Ketiganya berhasil menurunkan angka stunting,” ujarnya, seperti dikutip BEKESAH.co dari laman resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim.

Meski demikian, Seno Aji menyatakan, masih ada beberapa daerah yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Seperti Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dan Kota Balikpapan. Dimana prevalensi stunting di dua daerah itu masih berada di atas rata-rata provinsi maupun nasional.

“Daerah-daerah ini memerlukan perhatian khusus agar tingkat prevalensi stunting di Kaltim bisa benar-benar berada di bawah angka nasional,” ucapnya.

Mengacu pada Peraturan Presiden (PP) Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, Seno Aji mengatakan, terdapat dua pilar utama yang harus dijalankan Pemprov Kaltim untuk mencapai target. Yakni Intervensi Spesifik dan Intervensi Sensitif.

Ia menjelaskan, Intervensi Sensitif membutuhkan keterlibatan lintas sector. Pun dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemkot). Namun, Seno Aji juga mengingatkan, jika Intervensi Spesifik tetap menjadi faktor yang paling menentukan. “Intervensi spesifik ini harus dilakukan secara masif melalui OPD (Organisasi Perangkat Daerah, Red.) terkait di masing-masing daerah,” ungkapnya.

Disamping itu, Seno Aji menerangkan, saat ini pengukuran stunting paling banyak dilakukan pada kelompok usia 0–11 bulan. Pada rentang usia ini, menurutnya, perbedaan hasil timbangan dan tinggi badan sangat mungkin terjadi, sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam penentuan prevalensi.

“Anak usia di bawah satu tahun sering kali terlihat tidak sesuai standar, tetapi setelah mendapatkan penanganan orang tua dan fasilitas kesehatan, mereka dapat tumbuh dengan cepat,” tutupnya.