TRAGEDI BERDARAH NAJAMUDDIN SEWANG, DARI SANTET HINGGA ESEKUSI MATI YANG DIDALANGI ATASANNYA SENDIRI
- Dec 11, 2025
- INFO SIGAP
- INSIDEN/ KEJADIAN
KIMINFOSIGAP -
Kisah ini bermula jauh sebelum peluru diletuskan, berakar pada perasaan manusiawi yang paling purba: cinta dan kecemburuan. Di Makassar, tiga figur aparatur sipil negara terjerat dalam simpul rumit. Muhammad Iqbal Asnan, seorang pejabat yang karirnya sedang menanjak (saat itu Plt Kadishub Makassar), memiliki hubungan siri dengan Rachmawati, seorang pejabat perempuan di dinas yang sama.
Iqbal dikenal posesif. Baginya, Rachmawati bukan sekadar kekasih, tapi "wilayah" yang harus dijaga. Konflik muncul ketika Najamuddin Sewang, seorang pegawai Dishub yang juga bawahan mereka, mulai menunjukkan kedekatan dengan Rachmawati.
Bagi Iqbal, ini bukan sekadar persaingan asmara, tapi penghinaan terhadap harga dirinya. Pada tahun 2019, api cemburu itu meletup dalam sebuah sambungan telepon. Iqbal menghubungi kakak Najamuddin, Juni Sewang, dengan pesan yang dingin dan tegas: "Kalau bukan adikmu, saya habisi." Itu adalah peringatan pertama, sebuah gertakan yang sayangnya, dianggap angin lalu.
I. Jalan Gelap Menuju Maut (2020 - Awal 2022)
Waktu berlalu, namun bara di hati Iqbal tak kunjung padam. Justru semakin membakar logikanya. Jabatan Iqbal naik menjadi Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Makassar, memberinya kuasa lebih besar. Namun, obsesinya untuk menyingkirkan Najamuddin membuatnya menempuh jalan irasional.
Awalnya, Iqbal mencoba jalan mistis. Ia membayar orang untuk mengirim santet, melempar telur dan air jampi-jampi ke rumah Najamuddin. Namun, Najamuddin tetap sehat, tetap bugar, dan tetap ada di sekitar Rachmawati. Kegagalan cara halus ini membuat Iqbal putus asa dan gelap mata.
Rasionalitasnya sebagai pejabat publik runtuh; ia memutuskan bahwa Najamuddin harus hilang secara fisik.
Iqbal kemudian mengumpulkan orang-orang kepercayaannya. Di ruang-ruang tertutup, ia merancang skenario maut. Ia merekrut M. Asri, ajudan setianya, serta dua oknum polisi, Sulaiman dan Chaerul Akmal. Uang puluhan juta disiapkan, senjata api revolver dibeli dari jaringan gelap teroris. Rencana disusun rapi: ini harus terlihat seperti kecelakaan atau kematian wajar.
II. Minggu Kelabu di Tanjung Bunga (3 April 2022)
Pagi itu, Minggu 3 April 2022, langit Makassar cerah. Najamuddin Sewang baru saja selesai bertugas mengatur lalu lintas. Dengan santai, ia mengendarai motornya di Jalan Danau Tanjung Bunga, menikmati angin pagi, tanpa menyadari bahwa maut sedang menguntitnya dari belakang.
Dua eksekutor, Chaerul dan Sulaiman, membuntuti dengan motor NMAX. Saat suasana jalan lengang di dekat Masjid Cheng Hoo, mereka memacu motor mendekat. Dalam hitungan detik, Chaerul yang berada di boncengan menarik pelatuk.
DOR!
Satu peluru melesat, menembus bawah ketiak kiri Najamuddin, merobek paru-parunya. Tidak ada drama baku tembak, hanya satu letusan efisien. Najamuddin oleng, lalu jatuh tersungkur. Para eksekutor tancap gas, menghilang di keramaian kota.
Warga yang menolong mengira Najamuddin terkena serangan jantung atau kecelakaan tunggal karena tak ada darah yang memancar deras keluar. Ia dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya sudah tak tertolong.
III. Kebenaran yang Menolak Terkubur
Skenario "kecelakaan tunggal" nyaris berhasil. Jenazah sudah dibawa pulang untuk dimakamkan. Namun, Tuhan punya cara sendiri untuk menyingkap kejahatan. Saat keluarga memandikan jenazah, mereka menemukan kejanggalan: sebuah lubang kecil bulat yang rapi di tubuh Najamuddin, yang terus merembeskan darah.
Kecurigaan keluarga mengubah segalanya. Pemakaman ditunda, polisi dipanggil, autopsi dilakukan. Hasilnya tak terbantahkan: ada proyektil peluru bersarang di tubuh korban. Itu bukan kecelakaan, itu pembunuhan.
Polisi bergerak cepat memeriksa 10 titik CCTV. Rekaman menunjukkan dua pria berjaket ojol kuning (salah satu pelaku menyamar) yang gerak-geriknya mencurigakan. Jejak elektronik dan pengakuan saksi akhirnya mengarah pada satu nama besar: Muhammad Iqbal Asnan.
IV. Akhir yang Hampa (Desember 2022)
Pada 16 April 2022, Iqbal ditangkap di rumahnya. Sang Kasatpol PP yang gagah itu kini terduduk sebagai tersangka otak pembunuhan berencana. Motif cinta segitiga diungkap ke publik, mempertontonkan betapa rapuhnya integritas di hadapan nafsu asmara.
Proses hukum berjalan. Iqbal, Chaerul, Sulaiman, dan Asri diseret ke meja hijau. Namun, sebelum palu hakim sempat memvonis hukuman baginya, tubuh Iqbal menyerah. Di dalam tahanan, kesehatannya merosot drastis akibat diabetes dan komplikasi jantung.
Pada 18 Desember 2022, Iqbal Asnan menghembuskan napas terakhir di RS Bhayangkara. Ia meninggal sebagai terdakwa, membawa penyesalannya (jika ada) ke liang lahat. Kasusnya gugur demi hukum, namun aib dan kehancuran yang ia timbulkan tetap abadi. Rekan-rekan komplotannya, para eksekutor, akhirnya divonis penjara belasan hingga 20 tahun.
V. Pelajaran dari Tragedi
kasus ini bukan sekadar berita kriminal, melainkan sebuah cermin retak tentang kemanusiaan kita. Ada beberapa hal mendalam yang bisa kita renungkan:
- Bahaya Emosi yang Tak Terkelola:
Iqbal Asnan adalah bukti bahwa jabatan tinggi, pendidikan, dan status sosial tidak menjamin kecerdasan emosional. Ketika rasa cemburu dan ego (rasa kepemilikan) menguasai diri, akal sehat bisa mati seketika. Emosi sesaat yang tidak dikendalikan mampu menghancurkan karir yang dibangun puluhan tahun dan merenggut nyawa orang lain.
- Salah Kaprah Memaknai Harga Diri (Siri'):
Dalam budaya, mempertahankan harga diri adalah mulia. Namun, dalam kasus ini, harga diri disalahartikan menjadi arogansi dan keegoisan. Membunuh demi "cinta" bukanlah tindakan ksatria, melainkan tindakan pengecut yang menggunakan kekuasaan untuk menindas yang lemah.
- Kekuasaan adalah Ujian, Bukan Perisai:
Iqbal mungkin merasa aman karena jabatannya dan koneksinya dengan aparat hukum. Ia lupa bahwa kejahatan, serapi apa pun dibungkus, selalu meninggalkan jejak. Kekuasaan yang digunakan untuk kejahatan hanya akan mempercepat kejatuhan pemiliknya.
- Penyesalan Selalu Terlambat:
Pada akhirnya, tidak ada yang menang dalam kisah ini. Korban kehilangan nyawa, keluarga korban kehilangan tumpuan, pelaku kehilangan jabatan, kehormatan, dan akhirnya nyawanya sendiri.
Saat kita merasa marah, cemburu, atau tersinggung, berhentilah sejenak. Tarik napas. Jangan pernah mengambil keputusan apalagi tindakan saat emosi sedang di puncak. Jadilah dewasa dengan menyadari bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa kita miliki atau kendalikan, termasuk hati orang lain. Melepaskan seringkali lebih mulia daripada memaksakan kehendak yang berujung petaka.