Tekanan Ekonomi Picu Perceraian di Bontang

  • Nov 19, 2025
  • INFO SIGAP

Tekanan ekonomi kembali menjadi pemicu terbesar perceraian di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, ditambah kasus perselingkuhan, membuat banyak rumah tangga tak mampu bertahan.

Ketua Gerakan Keluarga Sakinah (GKS) Bontang, Amir L, mengatakan banyak pasangan yang terjebak dalam kesenjangan antara pendapatan dan kebutuhan harian

Bahkan ada suami yang tidak bekerja karena sulit mencari pekerjaan,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).

Data GKS menunjukkan pola perceraian yang masih tinggi meski cenderung menurun. Hingga November 2025, 100 kasus perceraian masuk ke Pengadilan Agama (PA) Bontang. Jumlah itu lebih rendah dibanding 359 kasus pada 2024 dan 457 kasus pada 2023.

Tetapi angka tersebut tetap memberi sinyal bahwa banyak keluarga belum siap menghadapi tekanan hidup.

“Kebanyakan pasangan yang bercerai berada di usia produktif, 35–45 tahun, dengan usia pernikahan kurang dari 10 tahun. Pada usia ini, tuntutan ekonomi sedang tinggi. Biaya sekolah anak, cicilan rumah, sampai kebutuhan harian membuat mereka mudah tertekan. Jika komunikasi tidak kuat, tekanannya berubah menjadi konflik,” jelas Amir.

Melihat situasi itu, GKS bersama PA Bontang berupaya menekan perceraian dari hulu. Mereka membuka kelas edukasi untuk remaja yang mulai memasuki usia pernikahan, terutama di atas 20 tahun.

Di kelas ini, peserta dibekali pemahaman soal tujuan pernikahan, pengelolaan emosi, hingga teknik membangun rumah tangga yang sehat 

GKS juga menjadi ruang mediasi sebelum pasangan resmi mengajukan perceraian. Pengadilan mengarahkan calon penggugat untuk mengikuti mediasi lebih dulu. Upaya ini mulai terlihat.

“Tahun ini ada satu pasangan yang akhirnya mempertahankan pernikahan dan mencabut gugatan cerai. Tapi sebagian tetap memilih berpisah karena masalah sudah terlalu kompleks,” katanya.

Selain perceraian, GKS juga mencatat maraknya pernikahan dini. Pada 2024, 80 kasus pernikahan usia muda terjadi di Bontang. Penyebabnya banyak. Mulai dari tekanan ekonomi, kehamilan di luar nikah, hingga kekhawatiran orang tua terhadap pergaulan anak.