SISWA SD NURUL IMAN BONTANG BELAJAR BERGANTIAN, ADA YANG SAMPAI KENA DBD

  • Dec 15, 2025
  • INFO SIGAP
  • KESEHATAN

KIMINFOSIGAP - Deretan buku tersusun dalam satu rak kayu yang sama. Beberapa tampak rapi. Terutama di bagian atas. Nyaris tak bisa dijangkau siswa. Kecuali dengan menaiki kursi dan meja. Makanya sedikit berdebu. Sebagian kecil lainnya di posisi bawah, tampak berantakan.

Tempat ini adalah perpustakaan Sekolah Dasar (SD) Nurul Iman di Jalan R. E. Martadinata, Kota Bontang. Belakangan, fungsinya berubah 180 derajat; menjadi dua ruang kelas. Posisinya hanya terpisahkan oleh dinding dari papan triplek. 

Wali Kelas I SD Nurul Iman, Rahmatiah, menceritakan bagaimana setiap hari dia harus mengatur muridnya menyesuaikan keadaan. “Ini sebenarnya perpustakaan. Tapi dibagi dua jadi kelas 1 dan kelas 2. Kalau ujian, disatukan. Anak-anak kadang menunggu di luar dulu,” ucap guru yang telah mengabdi sejak 2004 itu.

Perempuan berusia 53 tahun ini menambahkan, beberapa ruang kelas memang tidak digunakan. Sebab rawan bagi siswa karena banyak nyamuk. Dinding kayunya banyak yang berlubang. Bahkan sirkulasi udaranya buruk. “Anak-anak sampai pernah DBD (Demam Berdarah Dengue, Red.) karena nyamuk. Banyak ruangan yang memang tidak laik,” ujar Rahmatiah. 

Dulu, jumlah siswa di SD Nurul Iman cukup banyak. Mencapai 150 siswa. Kini jumlahnya menurun drastis. Jadi 79 siswa. Rinciannya, Kelas I 8 siswa, Kelas II 14 siswa, Kelas III 9 siswa, Kelas IV 14 siswa, Kelas V 15 siswa, dan Kelas VI 16 siswa.

Di tengah serba keterbatasan dan ancaman kehilangan siswa, para guru di SD Nurul Iman, kata Rahmatiah, tetap menjalankan tugas dengan penuh dedikasi. Tidak ada guru yang keluar meski gaji terbatas. "Siswa tetap datang dengan semangat meski harus belajar di kelas darurat," ungkapnya. Menukil data dari laman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), jumlah siswa di SD Nurul Iman benar tercatat 79 orang. Namun jumlahnya di kelas I, II dan IV berbeda (selengkapnya simak infografis). Sementara itu, untuk siswa baru, tercatat hanya 12 orang. Dimana paling banyak datang dari usia 7 tahun.