SEBULAN 6 KALI PAKAI SABU, APA YANG TERJADI DENGAN SISWA, APA YANG TERJADI DENGAN SISWA BONTANG YANG KECANDUAN ITU?
- Nov 27, 2025
- INFO SIGAP
- OBAT TERLARANG
KIMINFOSIGAP - Cerita miris di dunia pendidikan Kota Bontang terungkap lewat keberanian sebuah sekolah. Dengan tes urin, dua siswa teridentifikasi menggunakan narkoba jenis sabu. Celakanya, satu di mereka diketahui dalam kondisi ketergantungan. Itu sebabnya, ia harus menjalani rehabilitasi di Kota Samarinda.
Kepada BEKESAH.co, Dokter Ahli Pertama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang, dr Imelda Fitrahia, menjelaskan jika tingkat penggunaan tiap siswa berbeda. “Hasil assessmentnya itu pengguna sewaktu. Tidak teratur pakai. Biasa coba-coba saja,” katanya, Rabu (26/11/2025) kemarin
Dari hasil itu, BNN Kota Bontang kemudian menentukan dua pola penanganan kepada dua siswa tersebut. Yakni rawat inap dan rawat jalan
Untuk siswa yang masuk kategori rawat inap, dr Imelda menyebut, tingkat pemakaiannya sudah lebih berat. “Yang ini sudah lama pakainya. Dalam sebulan bisa sampai lima enam kali,” jelasnya.
Menurut dr Imelda, kondisi keluarga juga ikut memperburuk kondisi iswa bersangkutan. Ia disebut berasal dari keluarga yang tidak harmonis, sering berpindah tempat tinggal, dan sempat tidak memiliki hubungan yang harmonis selama tinggal dengan ibundanya. Itu sebabnya, sang siswa memilih tinggal bersama neneknya.
Dari penuturan dr Imelda, siswa yang bersangkutan menggunakan narkoba jenis sabu karena merasa banyak tekanan dan masalah pribadi. Makanya saat proses assessment, semula ia menolak melibatkan orang tua. “Pas lihat ibunya dipanggil, dia marah dan nangis. Dia bilang lebih baik ibunya enggak usah pusingin dia,” terangnya
Setelah dibawa ke Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah (Bareta) di Kota Samarinda dan menjalani perawatan sekira sebulan, kondisi siswa tersebut dikabarkan mulai membaik. Ia bahkan sudah masuk tahap detoksifikasi. Hubungannya dengan ibunya juga disebut perlahan membaik. “Sekarang sudah ada perubahan. Kami juga follow up ke keluarganya dan mereka mendukung,” ujar dr Imelda.
Sekolah tempat siswa ini belajar juga disebut sangat suportif. Mereka memberikan cuti sekolah selama proses rehabilitasi agar penanganan bisa berjalan tanpa hambatan.
Penjelasan tersebut diperkuat oleh Imelda Aptri, Petugas Pascarehabilitasi BNN Kota Bontang, yang menjelaskan bahwa proses pemulihan dimulai dari tahap detoksifikasi. “Awal masuk, pasti ada gejala putus zat. Badannya sakit dan lemas, sehingga dimasukkan terlebih dahulu ke ruang detoksifikasi,” ucapnya
Setelah kondisi stabil, siswa yang bersangkutan mengikuti aktivitas rehabilitasi rawat inap sesuai program. “Saat ini siswa tersebut telah menjalani perawatan selama satu bulan di Bareta. Masih ada sekitar dua bulan lagi,” ungkapnya.
Selesai menjalani rehabilitasi intensif, siswa itu tetap dipantau melalui program pascarehabilitasi di BNN Kota Bontang. “Kami melakukan follow up ke rumah, pemeriksaan urin rutin, serta memberikan pelatihan jika klien membutuhkan keterampilan. Prosesnya berkelanjutan,” ulas dr Imelda.
Dia menegaskan, keberhasilan rehabilitasi sangat ditentukan oleh kemauan pribadi. “Jika tidak muncul dari diri sendiri, pemulihan tidak akan efektif meski didorong oleh keluarga,” urainya.
Bagi dr Imelda, sebagian besar kasus pelajar yang menggunakan narkoba memiliki latar belakang persoalan keluarga. “Faktor keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap kondisi anak,” tandasnya. (