Palm Filter, Inovasi Limbah Sawit dari "Rivalitas" Dua Sekolah di Bontang: Riset 3 Bulan dan Modal Rp600 Ribu

  • Nov 19, 2025
  • INFO SIGAP

Cangkang kelapa sawit mengandung sekira 44 persen selulosa --bahan yang ternyata bisa menjadi filter air organik. Fakta ini datang dari riset mendalam lima siswa kelas XII asal Kota Bontang dari Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra (YPVDP) dan Yayasan Pupuk Kaltim (YPK); Muhammad Amiin, Muhammad Fadhilah Ramadhan, Fairuz Faza Ramadhan, Muhammad Rafi Al Fathi, dan Muhammad Raihan Zuhair  “Selulosa itu bisa menangkap bakteri. Dari situ kami mulai riset dua sampai tiga bulan,” aku Muhammad Amin, didampingi rekannya, Muhammad Fadhilah Ramadhan, siswa SMA YPVDP, saat berbincang dengan BEKESAH.co di Goerna Cafe --Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Bontang Baru, Kecamatan Bontang Utara-- belum lama ini 

Biaya ujicoba yang mereka keluarkan, terbilang murah. Hanya Rp600 ribu. Biaya itu tidak termasuk bahan kimia yang mereka pakai secara gratis dari sekolah. “Untung sekolah kami support,” ungkap Amin --sapaannya. “Walaupun sempat ada perdebatan karena pihak sekolah ingin tim internal saja yang maju. Tapi menurut kami, inovasi butuh kolaborasi. Teman-teman YPK itu kekuatan kami,” imbuhnya, bangga.

Di panggung Bontang Ideation 2025, mereka bahkan melakukan simulasi langsung. “Kami kasih tanah ke air, diaduk, terus disaring pakai filter kami,” ujarnya. “Airnya kami minum sendiri. Jadi juri tahu kalau kami yakin dengan hasilnya,” timpal Amin, tertawa.

Simulasi itu tentu saja membuat juri kagum. Atas inovasinya, kelima siswa didapuk sebagai Best Poster People's Choice kategori Masyarakat dan Juara Satu kategori Pelajar. Amin dan keempat rekannya, belum berpikir lebih jauh soal inovasi ini. Terutama untuk memproduksinya secara masal dan dikomersilkan. “Mungkin nanti. Kami masih kelas XII. Masih butuh banyak belajar. Siapa tahu suatu hari bisa bikin filter air laut,” ucapnya.

Kelak, jika lulus SMA, Amin mengaku ingin melanjutkan pendidikannya di Fakultas Teknik, Program Studi (Prodi) Teknik Pertambangan, Universitas Gadjah Mada (UGM). Sementara rekannya, Rama --sapaan Muhammad Fadhilah Ramadhan-- ingin menempuh pendidikan di Teknik Kimia UGM.

Mereka bercita-cita ingin kembali ke Kota Bontang suatu hari nanti, dan membangun Kota Taman dengan ilmu yang lebih matang. “Bontang itu tempat paling enak buat hidup,” ungkapnya. “Kalau bisa, saya mau tua di sini juga,” tambah Amin