MITOS PULAU KEDINDINGAN BONTANG BIKIN MERINDING: "LOKASI ITU ANGKER"

  • Dec 07, 2025
  • INFO SIGAP

KIMINFOSIGAP - Pemindahan aktivitas hiburan malam di Pulau Kedindingan memang baru sebatas wacana. Hal ini disampaikan Wakil Walikota Bontang Agus Haris dalam dua kesempatan berbeda. Pertama pada Senin (30/6/2025), dan kedua pada Senin (1/12/2025) lalu.

Dasar wacana ini bukan tanpa alasan. Agus Haris menilai, aktivitas hiburan malam di sekitar pemukiman masyarakat dianggap cukup berpengaruh. Terutama terhadap lingkungan kehidupan anak-anak hingga remaja di sekitar sana.

“Kalau hiburan ada di tengah masyarakat, anak-anak lihat dan meniru. Budaya kita ini budaya meniru,” katanya kepada BEKESAH.co, usai menghadiri peringatan Hari AIDS --Acquired Immunodeficiency Syndrome-- Sedunia 2025 di Auditorium Taman 3 Dimensi, Jalan Awang Long, Kelurahan Bontang Baru, Kecamatan Bontang Utara, belum lama ini.

“Masih wacana, belum ada tahapannya. Infrastruktur di laut itu besar sekali biayanya. Tapi rencananya semua hiburan nanti dipusatkan di sana,” imbuh Agus Haris. 

Wacana ini pun direspon berbeda oleh warganet di Kota Bontang. Di dua platform digital seperti Instagram dan grup WhatsApp (WA), mereka justru mengingatkan satu hal; betapa "berbahaya" lokasi tersebut. Bukan secara teknis, tetapi nonteknis alias secara supranatural. Mereka menganggap, Pulau Kedindingan merupakan salah satu tempat paling horor di Kota Bontang.

"Yang ada nanti kesurupan semua. Belum tahu ya daerah (Pulau) Kedindingan itu sangat angker," tulis warganet Kota Bontang dengan nama akun N 1 74 di Instagram. "Pulau Kedindingan itu berhantu, ngeri penunggunya di sana," tulis Deden, warganet lain sebuah grup WA.

ari penelusuran BEKESAH.co di pelbagai literasi tak resmi, Pulau Kedindingan konon telah dikenal sejak lama menjadi wilayah angker. Dulu --menurut pelbagai sumber terbuka yang ditelusuri BEKESAH.co-- pernah ada seorang warga yang tinggal di sana. Identitasnya tak diketahui. Pun dari mana ia berasal. Selama hidup di Pulau Kedindingan, warga tersebut sering diganggu oleh pelbagai macam bentuk mahluk halus yang mendiami wilayah itu.

Kabar itu pun disebut sampai ke telinga masyarakat yang tinggal di pesisir Kota Bontang. Entah bagaimana caranya. Tapi selama bertahun-tahun, tak diketahui bagaimana nasib seseorang tersebut. Warga yang tinggal di pesisir pun saat itu tidak ada yang berani datang ke sana untuk mencari sosok yang diceritakan.

Gara-gara ini, para nelayan yang kerap hilir mudik mencari ikan di sekitar perairan Pulau Kedindingan, tak ada yang berani mendekat. Bahkan menjejakkan kaki di sana.

Bertahun-tahun pula, Pulau Kedindingan juga disebut lekat dengan mitos sosok penjaga sekaligus penunggu yang bersemayam di sana. Yakni seekor naga. Masyarakat pesisir Kota Bontang dulu menyebutnya ular besar. Konon, bukan sekali dua para nelayan melihat sosok ini di balik rimbunnya belantara Pulau Kedindingan.

Dalam literasi tak resmi lain tertulis, saksi hidup keberadaan sang ular besar di Pulau Kedindingan tinggal di Bontang Kuala. Ia masih hidup. Namun tak disebutkan identitasnya. Literasi berikutnya kemudian menyebut, beberapa nelayan di Kota Bontang pernah melihat langsung sang ular besar. Cerita ini banyak dipercaya lantaran saksi mata mengungkapkan secara detail ciri-ciri fisik hewan dari alam gaib itu.

Tubuhnya disebut berdiameter lebih dari 50 sentimeter (cm). Panjangnya lebih dari 7 meter. Warna kulitnya merah terang. Jika naga dalam kepercayaan masyarakat Tiongkok diilustrasikan memiliki tanduk dan kaki, sang ular besar di Pulau Kedindingan justru berbeda.

Ia tidak memiliki tanduk. Pun tidak memiliki kaki. Yang lebih janggal adalah keberadaan dua helai kumis panjang yang melintang. Dalam pelbagai ilustrasi, seekor naga memiliki kumis di antara hidung dan mulut.