Dari Rencana Film Layar Lebar Buaya Riska: Tradisi dan Genre Drama Misteri

  • Nov 23, 2025
  • INFO SIGAP

Kabar buaya Riska terakhir kali terdengar di publik 8 Juli 2025. BEKESAH.co menulisnya lewat dua berita berjudul "2 Tahun setelah Buaya Riska Direlokasi". Pelbagai cerita dalam rentang waktu tersebut, diungkapkan langsung Fitriyani saat menghubungi media ini 7 Juli 2025.

Putri dari Ambo --pawang sekaligus 'ayah' buaya Riska-- itu sempat mengungkapkan kegelisahannya. Terutama sejak sang reptil berdarah dingin tersebut tak lagi hidup di Sungai Guntung, Bontang. Kini --setelah 138 hari sejak itu-- kabar terbaru tentang Riska datang kembali

Tapi kali ini justru bukan dari Fitriyani. Melainkan dari sineas muda, Fatqurozi. Kepada BEKESAH.co Sabtu (22/11/2025) malam tadi, ia menyampaikan kabar jika cerita Riska dan Ambo akan diangkat di layar lebar. Judulnya “Ambo Riska”. Ozi --sapaan Fatqurozi-- merupakan penulis cerita sekaligus sutradara dari rumah produksi Kawaland Film yang berbasis di Samarinda.

Ia menjelaskan, latar belakang ide ini tak sekadar datang dari channel Youtube Fitriyani Riska. Tetapi juga salah satu tradisi masyarakat Bugis yang menganggap buaya sebagai saudara kembar manusia. "Bentuk kepercayaan yang masih bertahan adalah konsepsi saudara kembar tak kasatmata yang disebut saule atau saukang," jelasnya, kepada BEKESAH.co.

Menurut Ozi, mitos saudara kembar buaya dalam masyarakat Bugis mengandung nilai-nilai simbolik yang laik diangkat ke film. Mulai dari kekerabatan dengan alam, perlindungan dan keselamatan, serta keseimbangan kosmos

"Antropolog menafsirkan mitos ini sebagai cara masyarakat Bugis menegosiasikan hubungan mereka dengan lingkungan berbahaya (sungai yang dihuni buaya, Red.). Dengan menempatkan buaya sebagai 'saudara', rasa takut diubah menjadi rasa hormat dan ikatan kekerabatan. Jadi terbentuk norma budaya untuk menjaga alam dan mencegah konflik dengan satwa liar," terangnya